Main | My profile | Registration | Log out | Login | RSSFriday, 2017-09-22, 6:10 PM

LEARN AND SHARE



Main Page
Categories
Movie Reviews [14]
Review film-film yang pernah saya tonton. Film yang layak untuk ditonton
Great Stories [14]
Kumpulan cerita yg menarik untuk dibaca
Komputer [9]
Segala sesuatu yg berhubungan dengan komputer mulai dari tutorial, tips dan trik, software, sampai hardware
virus Komputer [3]
Segala sesuatu tentang virus dari mulai pengenalan jenis virus, penanganan secara manual sampai antivirus
Website [10]
Website yg menarik untuk dikunjungi dan trik-trik berhubungan dengan dunia internet
Blogger [2]
Blogger-blogger keren. Media pertukaran link
Hmmm... [3]
Uncategories
Mini chat
New Free Software
Info teknologi
My Facebook
Bagusxfantasy Seven

Create Your Badge
Main » 2009 » June » 8 » S-H-M-I-L-Y
S-H-M-I-L-Y
7:30 AM
wall

Kakek dan nenekku sudah lebih dari setengah abad menikah, namun tetap memainkan permainan
istimewa itu sejak mereka bertemu pertama kali.
Tujuan permainan mereka adalah menulis kata "shmily"? di tempat yang secara tak terduga akan
ditemukan oleh yang lain. Mereka bergantian menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah.
Begitu yang lain menemukannya, maka yang menemukan sekali lagi mendapat giliran menulis kata
itu? di tempat tersembunyi.
Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam wadah gula atau wadah tepung, untuk
ditemukan oleh siapapun yang mendapat giliran menyiapkan makanan. Mereka membuatnya
dengan embun yang menempel pada jendela yang menghadap ke beranda belakang, tempat
nenekku selalu menyuguhkan puding warna biru yang hangat, buatannya sendiri.
"Shmily" dituliskan pada uap yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang mandi air
panas; kata itu akan muncul berulang - ulang setiap kali ada yang selesai mandi. Nenekku bahkan
pernah membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di ujung gulungan itu.
"Shmily" bisa muncul di mana saja. Pesan-pesan singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa
bisa ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkatkan pada kemudi. Catatan-catatan kecil itu?
diselipkan ke dalam sepatu atau diletakkan di bawah bantal. "Shmily" digoreskan pada lapisan debu
di atas penutup perapian atau pada timbunan abu di perapian.
Di rumah kakek nenekku, kata yang misterius itu merupakan sesuatu? yang penting, sama?
pentingnya dengan perabotan. Aku memerlukan waktu yang lama sekali sebelum benar-benar bisa
memahami dan menghargai permainan kakek-nenekku. Sikap skeptis membuatku tidak percaya
bahwa cinta sejati itu ada - cinta yang murni mengatasi segala suka dan duka. Meski begitu, aku tak
pernah meragukan hubungan kakek-nenekku.
Mereka sungguh saling mencintai. Dengan cinta yang lebih mendalam daripada kemesraan yang
mereka tunjukkan; cinta adalah cara pedoman hidup mereka. Hubungan mereka didasarkan pada
pengabdian dan kasih yang tulus, yang tidak semua orang cukup beruntung untuk mengalaminya.
Kakek dan nenek selalu bergandengan tangan kapan saja kesempatan memungkinkan. Mereka
berciuman sekilas bila bertabrakan didapur mereka yang mungil. Mereka saling menyelesaikan
kalimat pasangannya.
Setiap hari mereka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau permainan acak kata. Nenekku
membisikkan kepadaku bahwa kakekku sangat menarik, dan bahwa semakin tua kakek semakin
tampan. Menurut nenek, dia tahu "bagaimana membuat kakek bahagia."? Sebelum makan mereka
selalu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat yang mereka terima: keluarga yang
bahagia, rezeki yang cukup, dan pasangan mereka.
Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi kelam: nenekku menderita kanker payudara.
Penyakit itu pertama kali diketahui sepuluh tahun sebelumnya. Seperti yang selalu dilakukannya,
Kakek mendampingi Nenek menjalani setiap tahap pengobatan. Dia menghibur Nenek di kamar
kuning mereka, yang sengaja dicat dengan warna itu agar Nenek selalu dikelilingi sinar matahari,
bahkan ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah.
Sekali lagi kanker menyerang tubuh Nenek. Dengan bantuan sebatang tongkat dan tangan kakekku
yang kukuh, mereka tetap pergi kegereja setiap pagi. Tetapi nenekku dengan cepat menjadi lemah
sampai, akhirnya, dia tak bisa lagi keluar rumah. Kakek pergi ke gereja sendirian, berdoa agar
Tuhan menjaga istrinya. Sampai pada suatu hari, apa yang kami takutkan terjadi. Nenek meninggal.
"Shmily" Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada pita-pita merah jambu yang menghias buket
bunga duka untuk nenekku. Setelah para pelayat semakin berkurang dan yang terakhir beranjak
pergi, para paman dan bibiku, sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju mengelilingi
nenek untuk terakhir kali. Kakek melangkah mendekati peti mati Kakekku lalu, dengan suara
bergetar, dia menyanyi untuk nenek.
Bersama air mata dan kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan, lagu ninabobo dalam alunan suara
yang dalam dan parau. Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah melupakan saat itu.
Karena pada saat itulah, meskipun aku belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku
mendapat kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi.
S-h-m-i-l-y: See How Much I Love You
Lihat, betapa aku mencintaimu!
Terima kasih, kakek dan nenek, karena telah mengizinkan aku melihatnya.

Laura Jeanne Allen



Diambil dari e book Lerning for Live uploaded by Isyvic @ IDWS
Category: Great Stories | Views: 608 | Added by: Heaven | Tags: cinta | Rating: 0.0/0 |
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
My Blogspot
My Wordpress
Login form
Tag Content
sad korean movie Black Swan Nathalie Portman Philosophy Tragis windows xp Inspirasi Inspiratif Bahagia Motivasi sedih cinta artistik Cerita Gravis design lucu Cerpen Drama ake dan kenyataan Kelam edit online gambar graphic website gombal romantis sms Gackt Hyde Thriller Crime Matt Dammon Mystery Romance adobe reader PDF Update offline kis 2009 antivirus komputer harry potter danielle radcliefe Bedevilled gore korea aplikasi android pembuat animasi dp
Fovie Kaskus
Forum Balikita
IDWS Forum
Otodidak.info

Your Ip address : 54.81.8.73
You are using :
Copyright MyCorp © 2017
Free website builderuCoz